Hola! Gimana kabar pembaca sekalian? Semoga sehat-sehat saja dan tetap dalam lindungan Alloh, ya☺
Dan, hai blog! Lama tak menyapa dirimu, blog. Uluu, jangan ngambek laah blog😂 belakangan ini aku nggak sempat menyapamu karena banyak tugas dan tanggung jawab yang harus kuselesaikan. Jadi maaf ya blog✌
Oke, kali ini pembaca sekalian aku akan share puisi karya Aan Mansyur lagi. Sip lah, enjoy 'de pome ya!
Aan Mansyur dalam karyanya yang berjudul :
MENGUNJUGI MUSEUM
1.
Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku
Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung
Belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu
membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri
di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta
benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai
atau hantu.
Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya
masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian
perempuan itu masih kuda muda liar dan
senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika
kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi
kalender atau jam dinding yang ketagihan
mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya
Dunia lama selalu terjadi di hadapannya. Ia
menjauhkan diri dari segala yang ada di luar pintu
museum. Ia merasa terjebak di antara doa dan ciuman pertama. Jika ia menganggap lukisan
sebagai keindahan, semesta itu memudar. Ia tidak
ingin aman dan tercatat sebagai penghuni masa
lampau terlalu cepat.
Ia dan seorang gadis di sekolahnya pernah saling
jatuh mencintai. Semua pria dewasa, termasuk guru,
hanya orang bodoh di depan gadis itu. Ia ingin
menjadi sihir dan gadis itu percaya pada keajaiban.
2.
Ia ingin sihir tampak nyata dari lukisan atau
lebih hidup dari seluruh yang sibuk di luar museum.
Tapi ia tak ingin cinta jadi tangga yang mengangkat
merendahkan diri sendiri.
3.
Ia setuju, dan ia tak setuju. Ia melihat gadis itu tak
mampu menerima hidupnya sendiri sebagai
kesibukan yang lumrah dan boleh ditunda. Ia
mengejar dirinya sebagai karir, mengubah
kecantikannya menjadi jam kerja.
Di museum, ia ingin mengembalikan bekas luka di
punggung perempuan itu jadi senyuman. Ia ingin
meniupkan apapun yang mampu mengubah ranjang,
selimut, dan pakaian perempuan itu jadi serat-serat
pohon. Ia ingin menjadi penyair atau, setidaknya,
kembali jadi seorang yang belum pernah bercita-cita
mengenal kuas dan warna. Ia ingin jadi pencuri
takdir sendiri, pulang ke sekolah yang tidak kenal ujian dan acara penamatan.
4.
"Setiap orang adalah lukisan, jika tak membiarkan
diri terperangkap bingkai," kata pelayan toko buku
itu pada hari terakhir bekerja, harj terakhir sebelum
jadi hantu lain di pikiran remaja abadi dalam diriku.
Sun,16-10-2016
-fatima^^

No comments:
Post a Comment